Minggu, 02 November 2008

Adonara, Pulau Pembunuh

TARI PERANG HEDUNG

Tari perang “ Hedung ” berasal dari pulau Adonara kabupaten Flores Timur propinsi NTT. Makna filosofis tarian ini menggambarkan keperkasaan lelaki Adonara dalam kancah perang tanding. Perang tanding ini terjadi antar kampung di Adonara yang diakibatkan oleh dua masalah pokok yaitu masalah martabat wanita yang dilecehkan dan masalah tanah. Hal ini terlihat jelas dari properti yang digunakan seperti parang dan tombak (Kenube dan Gala) serta perisai (Dopi). Sementara kostum yang digunakan berupa sarung (Nowing) dan selendang (Snae) adalah pakaian kain tenun tradisional yang dibuatkan khusus untuk kaum lelaki.

Tari perang “ Hedung “ dapat dipertunjukkan melalui tiga adegan yaitu :

Adegan pertama : memperlihatkan bagaimana style lelaki Adonara yang

kekar dan penuh semangat serta pemberani. Adegan ini

dalam formasi berjajar.

Adegan kedua : memperlihatkan bagaimana gaya berperang lelaki

Adonara dimana yang satu menyerang sedangkan lainnya

bertahan. Adegan ini dalam formasi berhadapan.

Adegan ketiga : memperlihatkan hasil perang, yakni yang kalah dan yang

menang. Yang menang akan disambut dengan meriah,

sedangkan yang kalah akan kembali dengan lesu dan

penuh penyesalan.

Tari perang “ Hedung “ ini diiringi dengan gong dan tambur (Gong dan Bawa). Bunyi gong dan tambur pada moment tertentu akan diperkeras dan dipercepat untuk memancing emosi si penari agar ia lebih serius memperagakan semangat berperangnya. Hal ini dapt pula terlihat dari ekspresi wajah si penari yang menunjukkan kemarahan serta hentakan kaki bahkan dapat pula diselingi teriakan kecil untuk menantang lawan.

Dalam konteks tarian sebagai sebuah pertunjukkan seni, tari perang “ Hedung ” dapat bergeser maknanya untuk menggambarkan tidak hanya keperkasaan dalam medan perang tapi juga untuk menjemput pahlawan perang (dalam arti luas), mereka yang dianggap sebagai pejuang (pahlawan) dari segi apapun. Tarian ini juga dapat dimodifikasi untuk menjemput para pembesar, mengawal maupun mengiringnya. Fungsi kawalan ini dalam kaitan dengan keamanan dan kenyamanan sebagaimana layaknya “sang jagoan” yang mengawal “bos”nya. Oleh karenanya, kelengkapan tari perang “ Hedung ” ini hingga kini masih menggunakan parang dan tombak asli, bukan buatan dari kayu sebagaimana lazimnya tarian yang memanfaatkan properti kelengkapan buatan atau tiruan.

Untuk penari, properti yang digunakan adalah “ Kenobo “ yang melingkar di kepala. Properti ini melambangkan atau menggambarkan adaptasi seting perang yang biasa terjadi di luar perkampungan yaitu di ladang atau kebun maupun di semak belukar.

Tari perang “ Hedung ” sudah mendarah daging bagi orang Adonara. Oleh karena itu di manapun di belahan Nusantara ini jika ada komunitas orang Adonara maka selalu saja tersedia parang dan tombak di rumah mereka. Parang dan tombak ini sesekali dapat digunakan untuk mementaskan tari perang “ Hedung ”ini jika dibutuhkan. Adonara memang dijuluki oleh penulis Belanda Ein Petter sebagai “Pulau Pembunuh”, parang dan tombak itulah cerminnya.

Pada kesempatan kali ini tari perang “ Hedung ” dipentaskan oleh Sanggar Tite Hena yang berdiri sejak tahun 1982 dan dibawah pembinaan Bapak Ridwan K . N Tokan. Untuk melatih anggota yang berjumlah 10 orang pada sanggar ini dipercayakan kepada Bapak Frans Ola Wuran dan Bapak Yohanes Demon. Properti yang digunakan adalah parang dan tombak asli dari pulau Adonara, sama halnya dengan gong dan tambur.

nah bagi yang mau acaranya di suguhi dengan tarian ini kontak aja langsung ke KT 04

Tidak ada komentar: